|
|
|
|
作 者 : 薛 鴻 華 第 二 次 版(CD版)
TAHUN 2003 HOA KIAO INDONESIA KEMBALI BERADA DI SIMPANG JALAN (1) Oleh : Maurus Sheet Akhir2 ini saya memperoleh banyak kesempatan untuk membaca surat kabar berbahasa Tionghoa yang terbit di Indonesia, seperti Harian Qian Dao, Harian Guo Ji dll. Ciri yang menon- jol dari surat kabar ini adalah, dengan kolom yang luas, mempropagandakan, memuji dan menganjurkan agar para Hoakiao belajar Bahasa Mandarin dan mempertahankan kebuda- yaan Tionghoa. Seiring dengan itu, dalam kegiatan sosialnya, juga melancarkan kegiatan mendirikan Parpol Hoa Kiao, organisasi, sekolah dan kursus2 untuk para Hoa Kiao. Organisasi Hoa Kiao dan Perkumpulan sekampung juga ramai2 mencari dalih untuk bikin pesta rekreasi, tanpa memperdulikan biaya, secara besar2an, makan2 dan minum2, menyanyikan lagu2 Mandarin, menarikan tarian Mandarin, sungguh meriah sekali. Saya berpendapat, suasana kehangatan masyarakat "Tiongkok- isasi kembali dari Hoakiao" adalah sangat tidak baik, bahkan boleh dikatakan sangat berbahaya. Sungguh tidak dimengerti, para pemimpin dan organisasi yang menggerakkan aktivitas ini bermaksud membawa Hoakiao kemana ? Harus dipahami, mayoritas mutlak negara2 di dunia semuanya tidak mengharapkan bertempat tinggalnya dalam jumlah besar, penduduk tetap yang berkewarganegaraan asing di wilayah nega- ranya. Sebab, mengizinkan bertempat tinggalnya begitu banyak warganegara asing sebagai penduduk tetap, akan menjadi akar dari pergesekan antar etnis yang bahkan akan berkembang men- jadi peristiwa bentrokan berdarah. Banyak contoh2 demikian dalam sejarah. Maka itu, adalah tugas utama dari negara2 tersebut untuk mengurangi sejumlah besar penduduk tetap yang berkewarganegaraan asing. Banyak negara di Asia, disebabkan oleh berbagai macam kekhu- susan sejarah, dalam wiyah negaranya, bertempat tinggal sejum- lah besar penduduk tetap yang berkewarganegaraan asing. Seper- ti di Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, Indonesia dll. Dan Indonesia termasuk yang tipikal terbaik. Bagaimana mem- bikin orang asing dan warganegara setempat hidup berdampingan, saling membaur dan integrasi, semuanya telah menempuh jalan dan cara yang khusus. Di Indonesia, jumlah Hoa Kiao adalah 10 juta orang. Adalah negara Asia yang terbanyak orang asingnya. Kekhawatiran peme- rintah Indonesia dapat dipahami sepenuhnya, khususnya mempertimbangkan kekuatan ekonomi dari Hoakiao ini. Maka, sejak 1955, setelah Konperensi Bandung, Indonesia dan Tiongkok menyetujui untuk berunding dan menyelesaikan masalah Hoakiao ini. Diantaranya, bagaimana mengurangi jumlah Hoakiao dan kewarganegaraan rangkap, secara wajar merupakan agenda utama dari perundingan tersebut. Artikel ini tidak bermaksud memberi komentar benar atau salah- nya apa yang telah diputuskan dalam perundingan tersebut, untung ruginya pemilihan warganegara secara aktif dan pasif. Cuma hen- dak mendiskusikan masalah naturalisasi Hoakiao, perkembangan, perobahan dan situasi kongkrit selama puluhan tahun "setelah masuk menjadi warganegara". Setelah naturalisasi selama puluhan tahun, melalui kekuasaan Presiden Sukarno, Suharto, Abdurahman Wahid dan Megawati, mulai tersingkap sikap dan arahgerak dari Hoakiao yang berubah-uabah seiring dengan pergantian kekuasaan. Arah gerak ini boleh disimpulkan terbagi atas : di bidang hukum dan di bidang hati nurani. Contoh pertama: Di Bidang Hukum. Situasinya agak sederhana, secara damai, masuk menjadi warga- negara Indonesia sesuai dengan prosedur hukum kewarganegaraan. Akibatnya, memperoleh kewarganegaraan yg sah yang diakui oleh Hukum Indonesia dan hukum internasional. Artinya boleh dikatakan lulus ujian. Contoh kedua: Di bidang hati nurani. Situasinya agak rumit, meskipun dengan lancar melalui prosedur perundang-uandangan, namun dalam sanubari yang dalam masih terdapat rintangan2, di mulut menerima di hati tidak, dan timbul ber-macam2 ketidak puasan. Maka, secara serius, orang2 ini masih belum lulus ujian, lebih tepat lagimereka cuma condong ke integrasi menolak asimilasi. (1) Dimana manifestasi cuma setuju integrasi dan menolak asimilasi ini? Hal ini termanifestasikan seperti yang dilukiskan dalam permulaan artikel ini, secara menyolok tampak jelas ketika kunjungan Ketua Parlemen Li Peng baru2 ini, secara menyolok dan ber-bondong2 menyambut dan mengantar kunjungan pimpinan negara Republik Rakyat Tiongkok. Jelas ada yang merasa canggung melihat gejala ini. Surat Kabar Qian Dao dalam tulisannya ttg 11 November 2002 dengan tegas melakukan pembelaan: "Ada sementara orang yang merasa canggung melihat perasaan Hoakiao ini.... akan mendatangkan akibat yg tidak baik, jika ter- lalu intim dengan Tiongkok. Bahkan memberikan topi "tidak cinta indonesia.... merasa tidak tenang melihatcara penyambutan dari etnis Tionghoa terhadap pimpinan Tiongkok, bahkan menyebut lebih khidmat ketimbang menyambut Presiden Megawati, lebih meriah;...." Artikel mengatakan lagi, Apa sih salahnya menyambung tali jembatan antara sahabat karib ini? Ini bukan menyambung tali jembatan! Hakekatnya adalah menum- puk rumput kering yang semakin tinggi, jika menggunakan satu tong minyak, dengan sebatang korek api saja, akan membikin tumpukan rumput ini menjadi lautan api. Ahli masalah Etnis Tionghoa dalam dunia politik Indonesia yang bernama Arief Budiman menulis dalam majalah Newsweek 10 Februari 1997, memperingatkan para pembaca, jika timbul insiden kecil di Indonesia, akan menimbulkan insiden anti Tionghoa. Betul2 membikin orang kebat kebit hatinya. Ia melukiskan situasinya seperti "sebatang korek api akan membakar padang lalang yg kering".(2) Teringat pada situasi setelah Konperensi Bandung, kewibawaan Sukarno dan Chou En Lai kian meninggi, menjadi kawan seperj- uangan yang akrab, Indonesia dan Tiongkok menjadi negara se- kutu yg terbaik, sangat bersahabat sekali. Banyak negara di Asia menjadikan hubungan Indonesia dan Tiongkok sebagai tela- dan. Hoakiao Indonesia terpengaruh, membangkitkan gelombang cinta tanah air, mendirikan grup2 studi, menarikan tari Yang Ge, dan mengakibatkan ratusan ribu pemuda pelajar yang ber-bondong2 pulang ke tanahairnya Tiongkok. Suharto turun panggung pada 1998, Wahid dan Megawati mendiri- kan kekuasaan yang yang beriklimkan suasana politik yg demokratis dan bebas. Ditambah lagi kemenangan yg diperoleh oleh Tiongkok dalam gelanggang internasional, Para Hoakiao Indonesia mulai membangkitkan gelombang "Tiongkok-isasi lagi" Banyak sekali kemiripan antara latar belakang politik yang ditimbulkan oleh "China Hot" pada tahun 1955 dan 2003.Tapi juga ada perbedaannya. Yg pokok, tahun 2003 tidak menimbulkan "arus pulang ke Tiongkok", sebaliknya lahir gerakan massa untuk mendirikan sekolah Tionghoa, gelombangbelajar bahasa Mandarin dan kebudayaan Tionghoa. Hampir setiap pesta, pertemuan sekampung, pesta makan2 dan minum2, tak terhindarkan dari Karaoke. "Bendera Bintang Lima" kurang dinyanyikan lagi, sekarang meningkat menyanyikan lagu "Aku Cinta Kepadamu Tiongkok", betul2 membikin orang ter-bahak2 sampai mules perutnya. Orang mengatakan"Sejarah terulang kembali", bahasa Inggerisnya adalah"History repeats itself". Namun janganlah mengulangi kegagalan yang lampau. Maka, disini saya kutip percakapan antara "Sinergi" dan Dubes RRT di Indonesia, yang saya yakin ada manfaatnya. "Hoakiao di Indonesia yang sudah menjadi Wargenagara Indonesia,tanahairnya bukan lagi Tiongkok, melainkan Indonesia. Undang2 RRT tidak mengakui kewarganegaraan rangkap. Warga-negara Tiongkok di luarnegeri yang telah masuk menjadi warga- negara negara bersangkutan, secara otomatis kehilangan kewarganegaraan Tiongkoknya.......Tidak lagi diperlukan ucapan kesetiaan mereka terhadap RRT. (3) Dokumen ini telah secara tepat dan jelas menguraikan kedudukan politik dan internasional dari Hoakiao. Jadi, apakah surat kabar Tionghoa, belajar bahasa Tionghoa dan kebudayaan Tionghoa masih dibutuhkan? Masih dibutuhkan! Namun harus diarahkan ke Indonesia! Pertama, seiring dengan perkembangan perdagangan Tiongkok di Indonesia dan Asia, mendirikan pabrik2, membangun sarana jalan raya dan pelabuhan, Jumlah edagang dan tehnisi Tiongkok kian bertambah. Juga terdapat tidak sedikit pedagang asing Asia yang belum tentu mengerti Bahasa Indonesia. Maka, surat kabar ber- bahasa Mandari bisa memainkan peranannya, memperkenalkan kekayaan alam Indonesia, situasi investasi, data2 perekonomian. Arti penting dari mengarah ke Indonesia adalah bagaimana agar ekonomi raksasa Tiongkok dan barang2 yg murah dan berkwalitas tinggi Tiongkok, bisa membantu industri nasional Indonesia, saling menguntungkan dan perkembangannya tidak memainkan peranan korosif. Tanggal 15 Januari 1975 (Peristiwa Malari), PM Jepang berkunjung ke Indonesia, mahasiswa Indonesia turun ke jalan memprotes barang made in Japan menduduki dan mengemudikan pasar Indonesia, membikin industri nasional Indonesia menjadi bangkrut. Sebetulnya apa bedanya dengan agresi ekonomi? Demo mengakibatkan bentrokan rakyat dan tentara, akibatnya 11 oprang tewas, 177 luka berat dan 120 orang luka ringan, 755 orang ditahan, 144 buah bangunan dirusak atau dibakar ludes. Kesalahan semacam itu, hendaknya jangan diulangi oleh Tiongkok. (4) Kedua, Bahasa Mandari dan Kebudayaan Tionghoa adalah khazana paling berharga dari kebudayaan sedunia, patut dipertahankan dan dipelajari. Rektor Dahana dari Fakultas Bahasa dan Kebudayaan dari UI pernah mengatakan(dikutip dari harian Guo Ji ttg 3 Maret 2003), Bahasa Mandarin adalah salasatu dari empat bahasa yang paling digemari. Namun, belajar dan meneliti termasuk masalah pribadi dan pilihan pribadi. Di berbagai universitas di Indonesia, telah dibentuk jurusan bahasa Mandarin dan kebudayaan Tiongkok. , kita bisa mendaftarkan diri untuk masuk belajar. Ini sepenuhnya berbeda dengan sekali lagi Tiongkok-isasi kembali, dengan gerakan massa melintasi Jawa dan kepulauan lain, secara besar2an men- dirikan sekolah dasar, sekolah menengah dan sekolah tinggi Man- darin, menyerukan anak2, para pemuda, bahkan kakek2 dan nenek2 ramai2 masuk ke sekolah Mandarin dan kursus2 bahasa Mandarin. patut dipahami, pendidikan nasional Indonesia termasuk untuk Hoakiao, adalah menjadi kewajiban dan pengaturan dari departe- men pendidikan Indonesia. Bahasa suku bangsa minoritas boleh dipertahankan, tetapi kegiatan dan kedudukannya harus dibatasi. Pemerintah Indonesia berkewajiban mengembangkan dan mempertahankan penyaluran, otoritas dan kedudukan absolut dari bahasa pemerintah dari satu negara. Ini adalah kehormatan dan hak azasi dari sebuah negara merdeka. Bahasa juga merupakan Hoakiao tidak boleh berkonfrontasi dengan pemerintah Indonesia, orang Jawa tidak memaksa pemerintah mengubah bahasa Jawa menjadi bahasa nasional. Apakah Peking bisa menerima tuntutan suku bangsa Miao agar bahasa Miao menggantikan bahasa nasional Tiongkok? Kekhsusuan ucapan dan tindakan Hoakiao, tidak terhindarkan akan menimbulkan rasa antipati. Ketua Kamar Dagang Tionghoa berkata:"..... diperkirakan ada 10% orang Indonesia yang pro Tiongkok, 80% bersikap pasif terhadap etnis Tionghoa Indonesia, dan 10% yang benci etnis Tionghoa. 10% pro Tiongkok, 10% membenci, pendek kata 10% lawan 10%, sungguh mengejutkan! Dia masih berkata, Indonesia adalah satu negara yang paling banyak Hoakiaonya, juga negara yang paling anti Tionghoa (5) Hokiao harus sadar sebelum nyemplung ke jurang! Maurus Seet, ditulis di Hongkong pada 8 Mei 2003. Fax No. :(852) 23363081. TAHUN 2003 HOAKIAO INDONESIA BERADA DI SIMPANG JALAN (2) Oleh Maurus Seet Membalik kolom C3 Harian Guo Ji (28-2-2003) saya membaca judul besar: "Penduduk miskin kita ada 38,7 juta, 60% terletak di Jawa." Betul2 mengejutkan! Kesenjangan sosial kaya dan miskin di Indonesia sungguh besar sekali, merupakan bom waktu yang berbahaya. Jika tidak diurus dengan baik, setiap waktu bisa meledak. Kolom C5 berisikan iklan: "Berduka Cita", Ketua anu pulang ke pangkuan Tuhan..... Perkumpulan Sekampung anu memberikan penghormatan terakhir...." Di satu fihak memuat berita tentang penduduk miskin indonesia yang puluhan juta, siapa yang ke Indonesia pasti bisa melihat orang miskin ini tidur di kolong jembatan, perut kelaparan. Di fhak lain, iklan berduka cita besar2an, membuang uang seperti membuang air. Dua gambaran ini, yang satu tak ada makan, yang lain meng-hambur2kan uang, menampakan diri gambaran yang sangat kontras perbedaannya, situasi yg tidak adil. Sangat mudah menimbulkan pergesekan antar suku, tidak menguntungkan persatuan. Sebetulnya, bukan cuma Harian Guo Ji, Harian Qian Dao dan suratkabar Mandarin lainnya juga secara besar2an, sehalaman penuh memuat berita semacam ini, ini merupakan produksi khusus dari suratkabar orang Indonesia keturunan Tionghoa. Tak perlu heran, ongkos produksi surat kabar harus bersandar kepada iklan. Sedangkan iklan berduka cita merupakan penghormatan terhadap orang tua, watak luhur dari anak2nya yang berbakti, merupakan intisari kebudayaan tradisionil bangsa Tionghoa. Tapi, Hoakiao Indonesia dewasa ini, iklan duka cita sudah semacam aliran atau mode, tiap keluarga pasti memuatnya, bahkan kian lama kian besar, tak punya uang juga harus berusaha memasang iklan, se-olah masing2 berlomba, siapa yang paling besar iklannya, berarti siapa yang paling berbakti kepada orang tua. Di Tiongkok juga ada iklan semacam itu, tapi tidak sehebat di Indonesia, skalanya juga tidak sebesar itu. Pemerintah tidak melarang juga tidak menganjurkan. Jika kita tinjau lebih jauh, timbulnya dan meluasnya iklan duka cita di Indonesia, bukan secara kebetulan. Karena memiliki kesaam arti dengan berbagai macam adat istiadat Tionghoa seperti Naik ke puncak pada peringatan Chong yang, main barongsai dll. Adat istiadat tionghoa yang kini sedang menjadi mode di Indonesia, sepenuhnya mencerminkan kecendrungan "Tiongkok-isasi" dari Hoakiao. Kesimpulan demikian, tidaklah mengherankan, banyak ahli dan gurubesar Hoakiao Indonesia yang ternama juga mempunyai pendapat demikian. Baiklah kita melihat apa yang ditulis oleh Benny Setiono: Ia mengomentari kecendrungan Hoakiao Indonesia, ia menulis: "Dalam waktu singkat, ratusan rombongan barongsai, langliong dan perkumpulan ilmu silat Tiongkok, timbul di seluruh peloksok Indonesia. Ber-puluh2 surat kabar, mingguan dan ratusan beranekaragam kursus bahasa Mandarin, bagai jamur di musim hujan saling bertumbuh. Disamping itu, Metro TV tiap hari menggunakan acara khusus berbahasa Mandarin. Juga setasiun perdagangan nebggunakan bahasa Mandarin sebagai acara khususnya. ratusan perkumpulan, foundation, yg bersifat kekeluargaan, daerah, dan famili sistim tekah berdiri seiring dengan arus yg mengalir. Tahun Baru Imlek berbeda dgn tahun2 sebelum,nya, dirayakan secara terbuka secara meriah sekali. Juga tradisi2 keagamaan seperti Cap Go Meh, Gotong Toapekong dan telah lain2 timbul lagi. Katanya, jika terus begini, ada yang mengatakan sangat keterlaluan sekali. Dia katakan lagi,Setelah Tiongkok mengalami kemajuan ekonomi yang dahsyat, hubungan Indonesia Tiongkok memperoleh kemajuan, ada banyak Hoakiao Indonesia yang melempar kewarganegaraan indonesia entah kemana, merasa dirinya seperti Orang Tiongkok saja, Fungsi paspor indonesia cuma untuk diperlihatkan kepada jawatan Imigrasi doang. " Orang yang berduit ada yang merasa dirinya bisa setiap saat pindah menjadi penduduk negeri lain dan warganegara lain". Tidak ada yang harus dibanggakan apa yang dinamakan WNI. Di lain fihak ia mempoeringatkan Hoakiao: "Secara besar2an mengadakan pesta re-unie, kegiatan curhat dan lain2, bisa menimbulkan ketidak puasan dan menimbulkan bahaya, .... Hoakiao harus tahu diri, jangan main api.... Kesemuanya ini keluar dari hati yang tulus, setelah Hokiao memperoleh "kebebasan" , terdapat kecendrungan ke arah "Tiongkok-isasi", memperingatkan agar mengontrol diri sendiri, agar jangan sampai menderita kerugian.Tapi, taraf politik dan kepekaan tidaklah sama, bahkan kadang2 terdengar (Di Hongkong dan Tiongkok ada), mengapa tidak boleh? (1) Untuk menjawab mengapa tidak boleh, harus bicara sedikit sejarah. Setelah Indonesia memasukipeiode "Demokrasi Terpimpin" Sukarno (1959-1965), Kewibawaan Presiden mencapai puncaknya diatas dasar keberhasilannya dan kemenangan Konperensi Asia Afrika.Politik luarnegeri Indonesia kian condong ke Tiongkok Baru dan blok Komunis. PKI dan Baperki yg diketuai oleh Siauwq Giok Tjhan, seperti ikan dapat air, semangatnya tinggi, tapi juga menjadi duri dalam mata Angkatan darat yanganti Komunis dan anti Tionghoa yang dikepalai oleh Amerika serikat. Siauw adalah pemimpin dari garis ientegrasi buat Hoakiao Indonesia, menentang teori assimilasi, sehingga mendapat dukungan mayoritas Hoakiao ketika itu. Baperki secara besar2an mendirikan sekolah Tionghoa, secara berhasil membuka 100 buah, bahkan mendirikan sebuah universitas. Tapi, banyak orang di dalam Baperki yang tidak puas Baperki bersandar pada kiri. semakin jalan semakin jauh. (2) Tahun 1960, Lin Jun Xian, Wakil ketua Baperki , mengecam Siauw: Siauw... telah mengingkari politik dasar yang tidak memihakdari Baperki. Dengan tindakan kongkrit, Lin keluar dari Baperki sebagai perntaan ketidakpuasannya. Kegiatan anti Siauw semaki meningkat, pengikut teori assimilasi terus bertambah, akhirnya pada maret 1960, sepuluh tokoh Tionghoa yang mewakili gerakan assimilasi, mengeluarkan sebuah statement di majalah StarWeekly\, Hoakiao Indonesia harus dengan prinsip sukarelaberassinilasi ke masyarakat indonesia. Orang2 ini banyak berasal dari Partai Katholik, ada Inyoo Beng Goat dari harian Keng Po, ada Kepala Redaksimajalah mingguan Star Weekly - QAuw Yong Peng Koen, yang kemudian menjadi [endiri dan pemimpin harian Kompas. Penganut teori assimilasi menjalin hubungan dengan Nasution dari Angkatan Darat, memperkuat kedudukan mereka, membikin Presiden Sukarno terpaksa mengizinkan mereka mendirikan LPKB (Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa) yang menganut teori assimilasi. Maka dalam masyarakat Indonesia lahir dua organisasi yang saling tidak berkompromi, satu Baperki yang mengibarkan panji integrasi dan LPKB yang mengibarkan panji assimilasi. (3) Ketika kedua belah fihak, antara Sukarno, PKI dan Bep[erki. dan dilain fihak Suharto, LPKB AD, melakukan perdebatan sengit yang saling tidak berkompromi, Hoakiao tidak mentahui, sebuah bencana besar akan jatuh ke atas kepala mereka. Yaitu apa yang dinamakan G 30S, Gerakan 30 September. Dikomandoi oleh CIA, Gerakan anti Komunis dan anti Tionghoa yang biadab dan tak berprikemanusiaan yg digerakan oleh Angkatan darat, secara besar2an melakukan pembunuhan terhadap anggota PKI dan ormas buruh, Wanita , pemuda dan Baperki yg bernaung dibawahnya. Jutaan orang telah terbunuh begitu saja, Diantaranya berapa anggota Baperki dan orang Tionghoa ?Banyak Hoakiao yang tidak termasuk anggota Baperki dan ormas Tionghoa. mereka telah kehilangan jiwanya yang berharga secara penasaran. Ada yang mengecam, jatuhnya begitu banyak korban, disebabkan baperki yang condong ke kiri, tapi ada juga yang mengganggap pendapat ini tidak berdasar, sebab dalam baju Hokiao tidak adatanda pengenal kiri atau kanan, asal etnis Tionghoa dibunuh saja. Setelah menarik pelajaran dan pengalaman yg kejam ini, Hokiao tidak bisa dan tidak berani masuk partai atau ormas apapun. Lebih baik menanggung penderitaan, hidup menjadi warganegara kelas 3 di negaranya sendiri. Benarkan politik burung unta yang membenamkan kepalanya ke dalam pasir? Musibah tahun 1998 membuktikan bahwa politik menghindari diri semacam ini tidak berguna. harus bangkit menghadapi kenyataan, harus sepenuhnyamasuk kedalam masyarakat indonesia. Menjadi polisi dan tentara yg baik, masuk menjadi anggota parpol demokrasi dan nasionalis, seperti PDI-P, PKB, PAN, PPP GOLKAR, PARTAI KRISTEN DAN KATHOLIK dll. Jangan mendirikan atau masuk kedalam parpol Tionghoa, ter-lebih2 jangan "Tiongkok-isasi lagi". Karena orang selalu bilang, kekurangan terbesar dam sejarah adalah, tidak mampu menarik pelajaran dari sejarah.
Maurus Seet. Ditulis di Hongkong 23 Juni 2003. fax: (852) 2336 3081.Keterangan: (1)Dikutip dari tulisan Benny Setiono, Wk Ketua INTI, dari pidatonya ttg 27 April 2000 di Hotel Mercury Rekso yg berjudul:"Etnis Tionghoa Adalah Bagian Yang tak Terpisahkan Dari Bangsa Indonesia", bagian akhir pidato.
(2)Seminar yang diselenggarakan oleh INTI dan Suara Reformasi, harian Qian Dao, halaman 4, 11 Hovember 2002. Tuan Benny Setiono: "Kegiatan yang kepanasan dari etnis Tionghoa perlu direm dulu".
(3)Fragmen Sejarah Hoakiao Indonesia (Jian Ma Nan, 11-8-1994)
(4)Benny Setiono berpendapat korban etnis Tionghoa yang terbunuh jumlahnya ribuan. Penulis berpendapat angka ini terlalu konservatif, silahkan
membaca tulisan penulis yg berjudul: "Indonesia, dari Sukarno, Suharto sampai Habibie" 2003 ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA BERADA DI SIMPANG JALAN(LANJUTAN) oleh : Maurus Seet Saya merasa gembira sekali, kritik yang diajukan oleh Wuang Kun Zhang,dari Lembaga Penelitian Hoakiao dan Etnis Tionghoa dari Universitas Ji Nan atas tulisan saya Tahun 2003 Etnis Tioinghoa berada di simpangjalan yang dimuat dalam Harian Guo Ji Jakarta Indonesia ttg 3 Mei 2003. Kritik Profesor Huang terhadap tulisan saya tidaklah panjang. Tidak menjelaskan data dan konsepsi ilmiah dari term dan kata benda yang bertolak belakang dgn fakta sejarah. Saya
dan profesor Huang sama2 alumnus SM Hua Zhong Jakarta, justeru teman
sekolah lama, maka perlu berdiskusi lebih blak2an dan mendalam, lebih penting
lagi bisa lebih serius, sungguh2 melakukan diskusi ilmiah dan meneliti gerakan
dan arah dari etnis Tionghoa Indonesia setelah turunnya Suharto,agar menghindari
bentuk sembarangan memberi cap. Tulisan
profesor Huang yang berjudul "KESEMPULAN YG TIDAK TEPAT BERSUMBER DARI
KEKACAUAN KONSEPSI DAN BERTENTANGAN DENGAN FAKTA SEJARAH" disingkat menjadi
"KESIMPULAN", terbagi atas dua bagian, yg dimuat dalam Harian Guo Ji
Jakarta tertanggal 16 dan 18 Juni 2003. Saya
tidak berbeda pendapat tentang penjelasan istilah "Citizen" yang
dikutip dari buku Ci Hai. Mengenai
tulisan profesor Huang, yg disingkat "AKIBAT" dan "PANDANGAN",
Saya menjawab sebagai berikut: Pertama,
"Mayoritas mutlak negara2 di dunia tidak menghendaki dalam wilayah
negerinya. berdiam sejumlah besar warganegara asing yang tetap. Karena, sejumlah
besar warganagara asing yang tetap yang hidup dalam jangka panjang di
negerinya, akan menjadi sumber pergesekan, bentrokan serta bibit bentrokan
berdarah.: ("2003") Alinea
dibawah ini adalah topik perdebatan antara saya dengan profesor Huang: Karena
situasi sejarah yg ber-macam2, selama seratus tahun ini, di Indonesia,
telah bermukim sejumlah besar orang asing, diantaranya ada Orang Arab,
Belanda, Orang Tionghoa, Orang India dll. Orang Tionghoa atau yg disebut
etnis Tionghoa jumlahnya paling besar, ada yang bilang 6 juta bahkan ada yang
bilang 15 juta. Pada
abad ke-18, Indonesia telah dijajah oleh Belanda, rakyat tidak berhak mencampuri
urusan menetapnya orang asing, hanya bisa diam2 nrimo tok. Sampai pada
tahun 1945 Indonesia merdeka, barulah berhak membatasi keluar masuknya orang
asing. Namun,
nasi sudah menjadi bubur, jutaan orang asing sudah telanjur menjadi penduduk
tetap di Indonesia. Namun, pemerintah Indonesia tak pernah melepaskan
masalah bagaimana secara memuaskan mengurus etnis Tionghoa yang sudah menetap
diwilayah negaranya. Kesulitannya
adalah Tiongkok dan Indonesia sama2 tidak mau menerima dan mengakui kelompok
"etnis Tionghoa" ini sebagai orang sendiri. Masing2 saling menolak
kewajibannya, terus sampai 1955, setelah Konperensi Bandung, kedua belah fihak
baru setuju untuk secara damai menetapkan mana yang termasuk orang kamu, mana
yang termasuk orang aku Hasil
perundingan, kita ber-sama2 ketahui, ada lebih kurang 95% yang memilkih menjadi
WNI. cuma sebgian kecil yang memilih kewarganegaraan Tiongkok, bahkan ada
segelintir, tidak memilih, secara sukarela menjadi stateless. Mass media dan
banyak ahli politik beranggapan Koperensi Bandung sukses. Sebenarnya cuma
betul separoh, Karena tugas yang lebih penting dan sulit dari Tiongkok dan
Indonesia terletak pada masalah pendidikan buat "etnis Tionghoa" ini
atau "warganegara" yg baru ini.memelihara mereka menjadi
warganegara baik yang setia kepada tanahairnya. Bagaimana
Tiongkok menyambut kelompok "etnis Tionghoa" ini, kemudian
bagaimana mendidik, memelihara perantau Tionghoa ini, saya percaya profesor
Huang lebih paham, jelas, maka tugas ini saya serahkan kepada profesor Huang
untuk menunaikannya. Mengenai
Indonesia, tugas mereka lebih sulit berapa kali lipat, karena: (A)
Jumlahnya sangat banyak, jika menurut angka 95%, sudah berapa puluh kali
lipat lebih banyak. (B) masuknya etnis Tionghoa menjadi WN Tiongkok,se-olah2 kembali ke pangkuan ibu sendiri yang sudah lama tak jumpa. Masuk menjadi WN Indonesia seperti pulang ke ibu tiri, perasaan hatinya tidaklah sama. Ada
perbedaan antara Tiongkok dan Indonesia mengenai masalah bahasa, kebudayaan
tradisi agama dan adat istiadat. Pendek kata,Konperensi Bandung telah
menyelesaikan masalah Dwi Kewarganegaraan. soal "menetapnya sejumlah besar
orang asing di Indonesia, tetap belum ada perubahan apa2 buat Indonesia. Karena
orang yang memilih warganegara Tiongkok, tidak semuanya pulang ke
Tiongkok.Mereka bersama yang stateless, masih tetap bertempat tinggal di
Indonesia., buat Indonesia belum ada perobahan apa2. Sebelum dan setelah
Konperensi Bandung, situasi orang asing di Indonesia sama saja. Kedua, Nation dan National Risk, atau singkatnya disebut "bahaya terpendam negara"Sudah dijelaskan masalah tetap bertempat tinggalnya di Indonesia "sejumlah besar penduduk tetap asing di dalam negeri" fakta sejarah ini kiranya tak usah diperdebatkan lagi kan? Sekarang mari kita diskusikan alinea berikut ini, "akan menjadi akar pergesekan, bentrokan bahkan insiden berdarah antar bangsa selanjutnya" atau yg disebut "bahaya terpendam negara".(A) Profesor Huang berkata, adalah sangat mudah untuk memperoleh izin tinggal dan naturalisasi di Amerika Serikat: "Mengenai Amerika Serikat, Australia dan beberapa negara di Eropa, sebelum Perang Dunia ke-2, sudah dilakukan politik yang longgar terhadap penduduk asing di negerinya, telah menetapkan setelah beberapa tahun (3,5 tahun), diperbolehkan masuk menjadi warganegara. Maka, etnis Tionghoa yang kini menetap di luarnegeri, sebagian besar sudah menjadi warganegara negeri tersebut. , disebut sebagai "XYZ Chinese".... Mereka memiliki hak2 yang dimiliki oleh semua warganegara (misalnya ikut berpolitik, masuk tentara....)... Sudah barang tentu mereka tidak diperbolehkan terjun ke dalam politik Tiongkok. Tidak salah, itulah Amerika Serikat sebelum Peristiwa 911 ! Setelah Peristiwa 911, situasinya sudah mengalami perobahan. Khusnya terhadap sejumlah besar warganegara Amerika Serikat keturunan Arab, semuanya harus mendaftarkan diri kepada yang berwajib, yang tidak punya pekerjaan, yang belum masuk warganegara dan para siswa semuanya mesti exit, artinya keluar dari Amerika Serikat. Mereka bukan saja menjadi orang asing yg tidak disukai, hakekatnya menjadi orang asing yang dibenci oleh seluruh bangsa Amerika Serikat. Amerika Serikat telah mengeluarkan banyak peraturan yang menuntut oenduduknya jika menemukan "orang yg dicurigai" (sudah menjadi kata pengganti dari suku bangsa Arab) harus segera lapor kepada yang berwajib. Orang Arab bukan saja diawasi di-kejar2 diseluruh wilayah Amerika Serikat, organisasi anti teror yg kuat dari CIA sudah meresap diseluruh peloksok dunia. Hal ini membuktikan apa? Ia membuktikan pandangan saya:" bertempat tinggalnya sejumlah besar penduduk tetap asing di dalam negeri, akan menjadi akar pergesekan, bentrokan bahkan insiden berdarah di kemudian hari", bukannya tidak beralasan, ter-lebih2 tidak boleh secara subjektif, emosionil menghapuskan dan menyangkalnya. Yang asalnya sahabat bisa berubah menjadi musuh.Saya kemukakan lagi contoh lain yang baik, gelombang refuges Vietnam 1979, Di bawah tekanan ber-tubi2 dari opini dunia, Hong Kong terpaksa menerima kelompok pengungsi Vietnam ini. Namun, Hong Kong lebih baik mengeluarkan beberapa milyard Dollar, mengisolasi pengungsi Vietnam ini ke dalam barak2 penampungan, sambil menunggu negara lain yang mau menampungnya, juga tidak memperkenankan para pengungsi ini masuk kedalam masyarakat Hong Kong. Apa
sebabnya? Pemerintah
Hong Kong tidak mau melihat, masuknya sejumlah pengungsi Vietnam ke masyarakat
Hongkong, akan menjadi akar pergesekan, bentrokan bahkan insiden berdarah
serta kerusuhan antar kelompok masyarakat di kemudian hari. Apakah
pengertian ini masih tak dipahami? Sekarang
kita tengok kepada Jepang,. Korea selama 50 tahun diduduki Jepang, orang Korea
yang menetap di Jepang mau masuk WN Jepang, dengan tenang melewati hari tuanya.
Omong sih gampang, tapi sukarnya seperti mendaki ke langit. Tentu,
kerusuhan di suatu negeri bukan semua disebabkan oleh orang asing di dalam
negeri. Tidak boleh disimpulkan, etnis Tionghoa menjadi sumber kerusuhan
dan bentrokan antara bangsa di Indonesia. Etnis Tionghoa, seperti
yang dikatakan oleh profesor Huang. "selalu setia kepada pemerintah
Indonesia". Dalam sejarah Indonesia, etnis Tionghoa dan pejuang kemerdekaan
Indonesia telah bahu membahu berperang.mengusir Kolonialis Belanda dan Barat.
Fakta sejarah ini, siapapun tak boleh mengingkarinya. Profesor
Huang mengatakan lagi:" Pemerintah Malaysia dalam waktu panjang
memperbolehkan etnis Tionghoa membuka sekolah Menengah Tionghoa yang independen"....Tapi
di Malysia belum pernah muncul gelombang "Tiongkok-isasi". (C) Ini cuma melihat gejalah lahiriah saja. Indonesia, etnis Tionghoa Indonesia dan Malaysia dan Tionghoa Malaysia mempunyai syarat2 objektif yang berbeda. (D) 1. Penduduknya. Dalam 200 juta penduduk Indonesia, etnis Tionghoa cuma menempati 4 sampai 5 % saja, cuma 10 juta lebih, jadi 20 berbanding 1 antara penduduk Indonesia lainnya dengan etnis Tionghoa. Malaysia
berpenduduk 22 juta, etnis Tionghoa menempati 30%, ada 6 juta orang, jadi
3 berbanding 1 antara penduduk Malaysia lainnya dengan etnis Tionghoa(2)
Bahasanya. Penduduk etnis Tionghoa di Indonesia kebanyakan mahir berbahasa
Indonesia, tidak mampu berbahasa Tionghoa. Tionghoa Malaysia sebaliknya ,
kebanyakan tidak mampu berbahasa Malaysia, cuma bisa berbahasa lokal Tiongkok,
seperti Hok Kian, Guang Dong, Tio Ciu, Mandarin dll.(3) Partai Komunis. Di
Malaysia ada Partai Komunis Malaya ynag dipimpin oleh Chin Peng Sejak awal 1950
sudah berusaha mendirikan negeri Komunis Malaya di Malaysia. Meskipun Malaysia
pada 1957 telah memperoleh kemerdekaan, tujuan PKM tetap tak berubah, sepenuhnya
mau menggulingkan pemerintah. Dalam PKM mayoritas adalah etnis Tionghoa, kedua
orang Melayu, ketiga orang India. Pada 1960, PKM dikalahkan, tapi bentrokan
kecil antara pemerintah dengan PKM belum pernah berhenti(4) Bentrokan antar
bangsa yang berdarah.Dalam sejarah Malaysia, saling bunuh antar bangsa Melayu
dan etnis Tionghoa yang paling berdarah dan paling besar skalanya, terjadi pada
tahun 1969. Insiden telah menggoncangkan pimpinan tertinggi pemerintah dan
organisasi etnis Tionghoa. Dengan tekad yg se-besar2nya, kedua belah pihak telah
memutuskan agar insiden tak teulang kembali, maka telah mengumumkan berbagai
peraturan, melarang segala ucapan dan tindakan yang bisa memicu bentrokan antar
bangsa lagi. Dengan tegas dan tak ragu2 melaksanakannya. Yang melanggar dihukum
berat.Maka, meskipun etnis TIonghoa di Malaysia, sekolah Tionghoanya paling
banyak, tapi tidak seperti Indonesia berlangsung "Tiongkok-isasi" dan
"China Hot" dll.Tapi, meskipun tak diucapkan, lubuk hati tetap merasa
khawatir!(1) Chin Peng, lahir pada 1922 di Perak, Malaysia, suku Hakka. Aksi
pemberontakannya, berusaha dengan kekerasan bersenjata untuk menggulingkan
pemerintah yang sah, telah membikin malu semua etrnis Tionghoa di Asia.Ketiga,
"Tiongok-isasi' etnis Tionghoa di Indonesia pada 2003 dan bentrokan "globalisasi".Pada
massa berkuasanya Suharto selama 30 tahun, empat pilar yang menopang etnis
Tionghoa, perkumpulan, persaudaraan sekampung, sekolah Tionghoa,dan surat
kabar Tionghoa, semuanya dilarang. Setelah Suharto mengundurkan diri,
Wahid dan Megawati menghapuskan larangan tersebut, memberikan kesempatan
kepada etnis Tionghoa untuk menciptakan suatu"pilihan bebas", suatu
kesempatan yang sulit terjadi. Maka saya katakan, etnis Tionghoa kembali
berada di simpang jalan, inilah maksudnya.Profesor Liao Jian Yu, ketua Lembaga
Riset Asia di Singapiura, mengenai iklim politik dunia, berkata: "....Tentang
kewaspadaan yang perlu dimiliki oleh etnis Tionghoa di Indonesia, kekuatan
nasionalisme Indonesia masih besar, ketika krisis ekonomi, bisa terjadi lagi
insiden yang tak diinginkan yang terjadi atas hasutan politikus yang tak
bertanggung jawab..... Pertarungan antara Globalisasi dan Nasionalisasi yang tak
putus2nya, dimana etnis Tionghoa berada di tengah2nya,Etnis Tionghoa harus
memilih Indonesia-isasi atau Tiongkok-isasi ? (2)Analisa profesor Liao patut diperhatikan betul, etnis Tionghoa menderita pukulan dari globalisasi, masih harus memilih antara "Indonesia-isasi" atau "Tiongkok-isasi".. Tapi etnis Tionghoa membuang "Indonesia-isasi", memilih "Tiongkok-isasi".Oleh karenanya, empat pilar besar etnis Tionghoa, bagaikan jamur di musim hujan, tumbuh lagi. Secara menyeluruh, besar2an mengembangkan "Tiongkok-isasi". Dua artikel saya sebelum sudah menyinggung masalah ini, tak saya ulangi di sini.Tapi terhadap ucapan profesor dibawah ini, saya ada pendapat sbb:"Pemimpin negara Indonesia, menteri Pendidikan telah mengumumkan banyak ucapan yang menganjurkan mempelajari kebudayaan Tionghoa. Pemerintah Tiongkok dan Indonesia telah menandatangani persetujuan untuk mengadakan ujian untuk meningkatkan bahasa Mandarin di Indonesia, atas persetujuan pemerintah Indonesia, Guangdong dan daerah2 lain telah mengutus delegasi para ahli, untuk melatih guru bahasa Mandarin di Indonesia."Pada permulaannya, Tiongkok-isasi cuma di antara rakyat dengan rakyat. Apabila Tiongkok dan Indonesia saling mengutus delegasi tari dan nyanyi, pengaruhnya meningkat seiring dengan globalisasi, skalanya lebih luas. Bukankah hal ini mirip dengan situasi setelah Konperensi Asia Afrika di Bandung pada jaman Sukarno?Keempat, Bagaimana Orang Indonesia memandang etnis Tionghoa? Bhineka Tunggal Ika dan Masalah Nation.Bagaimana orang Indonesia memandang etnis Tionghoa? Saya kira bisa dibagi 4 golongan:1.Membenci etnis Tionghoa. 2. Menganggap etnis Tionghoa sama dengan orang asing, 3. Acuh tak acuh. 4. Damai dan bersahabat.Menurut pendapat saya: nomer 1 dan nomer 4 jumlahnya sedikit. kemudian 3 , dan nomer 2 yang paling banyak. Kira2 mirip dengan pandangan ketua ketua umum pedagang Tionghoa, bahwa yang menganggap etnis Tionghoa adalah orang asing, ada 40%, Yang acuh tak acuh juga 40%. Jadi masing2 cuma 88 juta banyaknya.Sekarang mari lihat pandangan Harry Tjan Silalahi dalam melukiskan orang Indonesia.:"Dari sudut pandangan jauh sejarah, etnis Tionghoa adalah penderita korban dari seringkalinya meletus kerusuhan rasial yang sengit. Mereka tidak atau belum diterima oleh "keseluruhan masyarakat pribumi". Mereka masih dianggap orang asing. Dari sudut manapun, atau dengan alasan apapun, kehadiran etnis Tionghoa dianggap mengganggu"."Soal ini dapat dilihat dari berbagai peristiwa anti Tiongoa.... "orde baru"......dalam politik dan ideologi, tidak percaya kepada grup etnis Tionghoa ini. Menganggap grup ini merupakan "kolone ke-5" dari Tiongkok.(3). Harry Tjan Silalahi adalah ahli masalah Tionghoa yang terkenal, pimpinan utama dari Pusat Penelitian Strategi Internasional Indonesia (CSIS). Boleh kita tidak setuju dengan pandangannya, namun harus giat mengerjakan pekerjaan untuk memperbaiki hubungan antara etnis Tionghoa dengan massa Indonesia. Lihat lagi tambahan dari Liao Jian Yu:"Dalam situasi seperti ini, 3 pilar utama dari budaya Tionghoa tampaknya sudah dipulihkan, kita bisa membaca banyak harian Tionghoa, sekolah Tionghoa dan kursus2, ini berarti terdapat kemungkinan untuk mendirikan kembali sekolah2 Tionghoa, dalam situasi seperti ini, seperti sekolah Tionghoa pra 1966, apa pengaruhnya terhadap situasi keseluruhan Indonesia? Jika diri kita adalah WNI, pendidikan yang diterima sepenuhnya pendidikan Tionghoa, dapatkah diterima oleh pemerintah setempat?Saya masih ingat pada tahun 1998, setelah Suharto mengundurkan diri, ada seorang teman berkata, dia mungkin jadi calon Presiden, ia pernah ditanya orang, :"Coba lihat, orang Tionghoa kini membentuk Partai Politik, bagaimana pandanganmu?" Jawabnya:"Mereka2 ini akan berubah menjadi seekor ular, mesti dipukul orang dengan tongkat". (4) Jelas sekali, yang diucapkan itu merupakan keadaan fikiran tokoh puncak politikus Indonesia, sangat anti Tionghoa. Etnis Tionghoa boleh percaya atau tidak, namun bagaimanapun harus waspada, harus bersatu, harus berfikir secara rasionil dan hindarkan spontanitet.Setelah naturalisasi, etnis Tionghoa menjadi WNI, boleh disebut WNI keturunan Tionghoa atau WN Indonesia suku Tionghoa. Jika orang Jawa dan Sunda disamping WNI juga termasuk bangsa Indonesia, tapi WNI suku Tionghoa tidak dianggap termasuk ke dalam bangsa Indonesia, maka dikatakan masalah etnis Tionghoa adalah masalah warganegara, bukan masalah bangsa."Orang Tionghoa harus meleburkan diri ke dalam tubuh pribumi Indonesia, berarti menjadi pribumi, .....barulah menjadi bangsa Indonesia yang penuh. Tapi karena etnis Tionghoa memiliki suku "orang asing", maka tidak mungkin menjadi bangsa Indonesia.Konsepsi kewarganegaraan dan konsepsi kebangsaan tidaklah sama, oleh karenanya haknya pun tak sama.Semboyan Bhineka Tunggal Ika cuma berlaku untuk orang Indonesia, tidak berlaku untuk etnis Tionghoa" (5). Pendek kata, yang terpenting etnis Tionghoa dan orang Indonesia kini sudah berada dalam satu negara, menjadi warganegara Republik Indonesia, memiliki hak dan kewajiban yang sama, maka perlu bahu membahu menyumbangkan tenaganya demi kekuatan, kestabilan dan kemakmuran negara.Akhirnya izikan saya mengulangi, jangan membikin "Tiongkok-isasi", sebab jika siang dan malam menciptakan "Tiongkok-isasi", pemerintah dan rakyat Indonesia tidak akan memandang kalian sebagai warganegara yang baik, ter-lebih2 takmungkin menjadi "teladan warganegara Indonesia" di mata rakyat Indonesia. Untuk apa toh?Saya akan mengambil pepatah untuk mengakhiri tulisan saya:"Orang yang tinggal di rumah kaca, jangan sembarangan lempar batu dalam rumah" Maurus Seet, Hong Kong, 3 Agustus 2003. Keterangan: 1. History of Malaysia and Southeast Asia, P-247, by Marissa Champion and Joy Moreira 2. Pidato Liao Jian Yu dalam pertemuan para alumnus Hua Chung Indonesia tertanggal 3 Juli 2003, dimuat dalam Harian Guo Ji, 7 Juli 2003. 3. Peranan Kumunitas Tionghoa dalam Sejarah Indonesia, Oleh Harry Tjan Silalahi. 4. Liao Jian Yu:"Masa Lampau, masa kini dan masa mendatang dari Etnis Tionghoa di Indonesia. Dimuat dalam Harian Qian Dao, 14 Juli 2003. 5. Sama dengan no.4. 2003 ETNIS TIONGHOA KEMBALI BERADA DI SIMPANG JALAN (4) Oleh : Maurus Seet Tahun 2003 segera akan menjadi sejarah. Tahun 2003 telah men- datangkan sukses yang gilang gemilang buat Tiongkok. Dalam bidang tehnologi tinggi, Shen Zhou No.5 telah sukses meluncurkan kapal angkasa yang bermuatan manusia, membuktikan Tiongkok menjadi negeri ke-3 setelah Amerika Serikat, Russia, memiliki ke- kuatan perkasa dalam industri ruang angkasa dan dasar serta kemampuan dalam tehnologi dan ilmu yang maju. Tiongkok telah menjadi negara ekonomi kuat, dalam perdagangan internasional, mempunyai surplus terhadap beberapa negara ekonomi kuat , surplus terhadap perdagangan dengan AS malah tinggi sekali. Ditambah lagi, Tiongkok sudah memperoleh hal untuk menyelenggarakan Olympiade tahun 2008, World Expo 2010, masuk menjadi anggota WTO, semuanya akan meningkatkan nama dan kedudukan ekonomi Tiongkok di dunia. Dalam bidang politik, sokongannya terhadap berbagai politik dan tindakan PPB di arena internasional, telah memulihkan peranan memimpin dan otoritasnya dalam organisasi internasional ini. manifestasi kongkritnya adalah dalam memulihkan perekonomian dan keamanan di Irak, sumbangan dan kegiatan dalam konperensi 6 negara dalam menyelesaikan masalah senjata nuklir di Korea Utara. Melejitnya kedudukan politik internasional Tiongkok, ditambah lagi suksesnya dan penyambutan hangat terhadap PM Wen Jiabao di- dalam kunjungan ke AS, Canada, Mexico dan negara2 Afrika, secara luarbiasa telah meningkatkan wajah bersahabat dari Tiongkok. Ratusan juta turunan Huang Ti di seluruh Dunia dan semua yang mempunyai darah keturunan Tionghoa semuanya dengan gegap gempita bersorak-sorai terhadap suksesnya Tiongkok dan mani- festasinya yang hebat. Secara otomatis termasuk 8 juta etnis Tionghoa di Indonesia yang dengan antusias dan gembira meraya- kannya. Secara sadar atau tida, telah mendorong gerakan dan arus Tiongkok-isasi. Dibawah ini saya akan memberi contoh yang diambil dari harian Qian Dao, yang berbahasa Tionghoa di Jakarta: "Kursus Belajar Bahasa Han " di Banjarmasin. Akhirnya dibuka kembali setelah melalui gelombang angin taufan sejarah. 9 November 2003. Tanggal 23 Oktober 2003 siang, udara cerah sekali, sekelompok pengurus dan guru kursus bahasa Han di Banjarmasin, dengan peraan penuh dengan kegembiraan an agak tegang, menantikan saat2 yang di-damba2kan, sebab sore jam 3 tepat, kursus bahasa Han yg telah di-tunggu2 oleh mereka akan dibuka secara resmi. Gedung sekolah "Kursus Bahasa Tionghoa Indonesia" Tarakan resmi dibuka, tanggal 17 mulai belajar. 28-10-2003. Tanggal 15 malam jam 7.30..... Pejabat Pendidikan setempat yang diundang oleh panitia persiapan pembangunan sekolah Tionghoa Tarakan telah memimpin uopacara pembukaannya, per-tama2 dimeriahkan dengan rombongan barongsai Tionghoa Tarakan, kemudian wakil menteri Pen- didikan .... mengumumkan upacara pembukaan. ...Berbicara mengenai [rpses berdirinya kursus: Setelah bahasa Tionghoa di Indonesia mengalami pelarangan selama 30 tahun, kini mulai tampak fajar menyingsing, sungguh kesempatan yang jarang ada , seiring dengan berlangsungnya demokratisasi dan reformasi di Indonesia, pendidikan kebudayaan yang terputus selama 30 tahun telah hidup kembali, di wilayah negeri kepulauan ini telah bangkit suasana hangat gerakan belajar bahasa Tionghoa. Hari Sumpah Pemuda telah dilupakan massa ? 3-10-2003. Sejak jatuhnya kekuasaan Suharto, hari peringatan bersejarah satu per satu telah dilupakan orang, diantaranya hari peringatan "Sumpah Pemuda" yang jaya. Biasanya, setiap "Hari Sumpah Pemuda"...Sekolah2 selalu mengadakan upacara penaikan bendera, kini .. . . tidak tampak lagi upacara peringatan apapun. Coba pikirkan, berita kecil seperti dibukanya kursus bahasa Tionghoa, berita2 sepele saja sudah diangkat demikian khidmatnya dan memenuhi semua halaman sdurat kabar, se-akan2 sama besarnya dengan memper- ingati hari Nasional 17 Agustus. Hal ini menerangkan apa? }Tiongkok- isasi betul2 sudah mencapai keadaan yang memuakkan, begitu tolol dan kehilangan ratio. "Tiongkok-isasi kembali" telah mencapai tingkat tinggi dan keadaan gila gilaan itu, disebabkan oleh berbagai faktor kongkrit politik dan ekonomi. Kesatu, Pemerintah Indonesia sekarang adalah pemerintah yang tak ada yang mengurus, tiap Partai, politikus dan para pejabat cuma pemperdulikan kantongnya sendiri, sibuk memperkaya diri sendiri dan menikmatinya. Kedua, Sebagian Partai Islam yang biasanya bersikap anti Tionghoa, semnatara ini sedang memusatkan perhatian untuk urusan pemilu 2004. Ketiga, Dua faktor tersebut di atas, telah meciptakan suasana kekosongan yang berguna untuk usaha perniagaan, kota dan pedesaan sama2 mem- peroleh keuntungan. Orang Tiongoa jelas kebagian, datangnya gam- pang, keluarnya juga gampang, ini diperayakan, itu juga dirayakan, night club senantiasa penuh sesak, minum2 dan nyanyi2 se-puas2nya, se-olah2 tak ada hari esok. Kebetulan, hari Sumpah Pemuda 1928, sunyi senyap tak ada yang hirau- kan,. Pimpinan tertinggi etnis Tionghoa, yerhadap Hari Sumpah Pemuda yang begitu penting. bukannya mendidik etnis Tionghoa untuk secara te- pat meningkatkan pengenalan terhadap negara, sungguh sayang sekali. Tapi, dalam setiap kesempatan besar dan kecil, mereka tak jemu2nya minta:" harus meleburkan diri ke arus pokok masyarakat Indonesia dan membangun masyarakat modern kebangsaan Indonesia dll", cuma merupakan cek kosong belaka, lebih banyak aksi show belaka.Ketika PM Tiongkok Wen Jia Bao kali inimengadakan kunjungan ke USA,Canada dan beberapa negara Afrika, dalam laayar TV tampak dua kelompok orang Tionghoa, sekelompok yang mayoritas mutlkan yang pro RRT, dan sekelompok lagi sejumlah kecil uang pro Taiwan, semuanya dengan emo- sionil ber-teriak2 menuangkan pendapatnya. Sepenuhnya membuktikan, polarisasi etnios Tionghoa di dunia ini sangat tajam sekali. Beijing dan Taipeh dengan segala macam cara minta mereka melakukan pilihan, secara ringkas memperlihatkan Hoakiao dan etnis Tionghoa telah dijadikan sasaran untuk diperebutkan antara Beijing dan Taipeh, dijadikan suporters politik. Apakah dengan demikian kedudukan etnis Tionghoa tambah meningkat? Dalam artian tertentu memang terasa meningkat, namun harus dibayar dengan mahal, tidak seimbang dengan pengorbanan yg dikeluarkan.(1) Pendek kata, etnis Tionghoa harus memilik otak yang jernih dan tekad yang kuat. Harus secara jelas bisa membedakan apa itu cinta negara, apa itu menyokong Tiongkok dan apa itu "Tiongkok-isasi". Lahiriahnya se- olah2 sama saja, sebetulnya mereka masing2 memiliki kekhususan arti politis. Orang USA, orang Italia, orang Asia Tenggara, termasuk etnis Tionghoa Indonesia, semuanya bnoleh cinta Tiongkok. memnyokong Tiongkok, namun mereka tidak boleh ambil bagian dalam "Tiongkok-isasi", karena mereka bukannya WNI keturunan Tionghoa. Menentang "Tiongkok-isasi" tidak sama dengan anti Tiongkok. Menentang "Tiongkok-isasi" tidak sama dengan menentang Tiongkok, hal ini sangat pentinga sekali, menyangkut soal yang prinsipil. Etsnis Tionghoa Malaysia, mengalami sendiri saat2 yang sama, akhirnya bisa diurus dengan tepat dan sukses, oleh karena itu, mari diperkenalkan se- buah artikerl yang perlu diteliti dengan mendalam: "Malaysia tidak termasuk bagian dari Tiongkok......jika negara ini mendidik anak2nya menjadi orang Tiongkok, dan bukan mendidik mereka menjadi orang Malysia, bukankah hal ini sangat aneh kelihatannya...... Bahasa resmi begara ini adalah bahasa Inggeris atau bahasa Melayu..... sebetulnya, mereka (tamu baru, penulis) adalah sekelompok orang asing yang berbahasa Tionghoa. Fak ini tidak mesti dijadikan alasan agar kita mesti belajar dan bicara bahasa Tionghoa, meskipun dalam darah kita mengali darah Tionghoa. Dulu tempat ini merupakan jajahan Inggeris, bahasa Inggeris tentumempunyai kedudukan istimewa dan merupakan bahasa yang patut dipelajari. Saya percaya, pemerinta jika bukannya menekan mereka, mestinya menasihati mereka.....Malaya dan sementara negara di dunia, jarang tampak membuka pintunya secara bebas dan bersahabat. Sikap persahabatan ini akan direndahkan, jika ada grup2 manapun yang berusaha mendirikan little England, little India dan little ...... Malaysia adalah milik Malaysia, tak peduli apa asal keturunanya dulu. .... patut diperhatikan, sekolah Tionghoa di sini, bukan saja mempelajari bahasa Tionghoa, mereka juga mempalajri adat istiadat Tionghoa serta mengibarkan panji kesetiaan terhadap negara ini" (2) Artikel ditulis dengan brilyan, sangat jelas, sangat cukup dasar teorinya, membuat kita yakin. Begitupun dengan etnis Tionghoa Indonesia, hatus secara serius mengatakan, Indonesia bukan bagian dari Tiongkok, lebih2 bukan provinsi dari Tiongkok, leluhur etnis Tionghoa Indonesia selama turun temurun ratusan tahun lamanya, sudah hidup dan meninggal di bumi ini. Anak cucunya, sekarang dan kelak akan turun temurun hidup menerima pendidikan, bekerja di sini. Mereka tidak mempunyai alasan apapun untuk mendidik anak2nya menjadii orang asing, orang Tionghoa, orang Amerika, orang Jerman, orang ingapura, orang Malaysia atau orang Tionghoa. Mayoritas anak2 etnis Tionghoa yang lahir pada jaman Suharto, dari SD, SMU sampai universitas semuanya bersekolah di sekolah pemerintah atau sekolah swasta Indonesia. Di sekolah, mereka sedikit sekali atau tidak menerima pendidikan tentang kebudayaan Tionghoa. Kebanyakan dari mereka tidak mampu berbahasa Tionghoa dan menulis aksara Tionghoa. Mereka yakin mereka adalah orang Indonesia, bukan orang Tionghoa, adalah orang2 yang melalui proses yang wajar dan bebas menjadi orang Indonesia. Jika mengecam mereka lupa asalnya, renegad yang tidak me- ngenal leluhurnya, adalah keliru sekali. Tak dapat disangkal, globalisasi bisa mendorong Tiongkok-isasi, memberikan tekanan besar kepada etnis Tionghoa yang WNI. (3)
Tahun 2004 sudah di ambang pintu, "tahun 2003, Etnis Tionghoa Berada Di Simpang Jalan (4)" ini adalah artikel yang terakhir, tahun 2003 sudah tak terpakai lagi, apakah akan diteruskan dengan tahun 2004.........berada di simpang jalan?" Ini suylit dikatakan. Masih akan melihat perkembangan kelajuan dari proses "Tiongkok-isasi" Sekarang baiklah saya ucapkan: Selamat Tahun Baru 2004, semoga badan sehat2 saja! Maurus Seet, 12 Desember 2003. |